Minggu, 07 Maret 2010 Dulu jalur strategis, kini malah terlupakan.
Morotai tempo dulu adalah sebuah pulau kecil yang sangat strategis dalam menyusun kekuatan militer semasa Perang Dunia (PD) ke-2. Bukan apa-apa, di pulau yang berada di bibir Samudra Pasifik inilah pasukan Amerika Serikat (AS) mengatur strategi militer guna menaklukkan musuh-musuhnya.
Bandar udara pun dibangun agar bisa didarati pesawat-pesawat tempur milik AS dan para sekutunya. Di bawah komando Panglima Divisi VII AS, Jenderal Douglas MacArthur yang heroik itu, sebanyak 63 batalion mendarat di Tanjung Dehegila, Morotai sejak 15 September 1944. Di situlah, jenderal berbintang empat itu menggalang kekuatan ratusan ribu pasukan dari berbagai angkatan mulai dari darat, laut, dan udara. Tujuannya, menggempur kekuatan tentara Jepang yang berkuasa di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Bisa dibayangkan keramaian Morotai ketika itu. Pesawat-pesawat tempur milik negara adi kuasa tercanggih di zamannya itu hilir-mudik meramaikan kota kecil. Tak hanya Morotai yang ramai. Pulau-pulau kecil di sekitarnya juga dijadikan markas untuk mendukung kegiatan utama di Morotai.

Wajar saja kalau para petinggi AS dan Jepang itu betah tinggal di sana. Selain cukup aman, pulau ini masih alami dan memiliki panorama pasir putih nan menawan. Keindahan dasar lautnya juga sangat memikat. Aneka jenis terumbu karang dengan berbagai jenis ikan hias penuh warna- warni menghiasi keelokan alam dasar laut. Kini, suasananya jauh berbeda.

Dengan begitu, banyak generasi muda dari kedua negara maju tersebut dapat bernostalgia ke Morotai dimana para leluhur mereka berjuang dengan gagah berani. Mereka pun dapat menikmati keindahan alam Morotai yang masih alami. Sejarah mencatat, ketika Morotai masih berada di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku, pada tahun 2002/2003 kontribusi sektor wisata cukup tinggi, yakni sekitar 28 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kini, setelah Morotai menjadi kota kabupaten di bawah koordinasi Gubernur Malut, kontribusi sektor wisata tersebut sebenarnya dapat ditingkatkan.
Berpasir Putih
Selain Morotai dan Zum-zum, kawasan indah juga terdapat di Pulau Dodola Besar dan Pulau Dodola Kecil, keduanya berada di Kecamatan Morotai Selatan. Di Taman Laut Dodola inilah para pelancong dapat menikmati rekreasi selam (diving) dan memancing. Maklum, kawasan ini memang terkenal dengan keindahan terumbu karang dan ikan hias.

Bagi yang gemar menyelam, silakan nikmati keelokan berbagai jenis terumbu karang dan ikan hias. Di dasar laut hingga kedalaman 6-8 meter, kondisi terumbu karangnya masih sangat baik dengan penutupan karang sekitar 75 persen dan dihuni 17 genera karang keras. Terumbu karangnya datar (reef fl at) dengan bentuk pertumbuhan bercabang. Kawasan ini juga memiliki potensi kerang kima, bintang laut, dan bulu babi.

Bukan hanya di laut, di darat pun Kabupaten Morotai kaya wisata alam. Sebut saja objek wisata Air Kaca di Morotai Selatan. Kawasan tersebut cocok untuk berekreasi dan olahraga. Lalu bagi penggemar wisata gua, dapat mampir di dua kecamatan, yakni Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat. Singkat kata, Kabupaten Pulau Morotai yang secara geografi s berada pada koordinat 2o 00’ sampai 2o 40’ Lintang Utara dan 128o 15’ sampai 128o 40’ Bujur Timur itu memang layak menjadi kota tujuan berbagai kegiatan bisnis yang strategis. Masa depan kabupaten yang dikaruniai 33 pulau kecil, tujuh pulau di antaranya berpenghuni ini memang sangat menjanjikan jika dikelola secara serius. _ b siswo
Sumber: Koran Jakarta : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=46824
Foto : Kaskus - http://archive.kaskus.us/thread/4373913 dan google images




Sumber: Koran Jakarta : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=46824
Foto : Kaskus - http://archive.kaskus.us/thread/4373913 dan google images


Pendaratan Sekutu di Morotai


Panglima Asia Pasific Pasukan Sekutu, General Dauglas Mc Arthur, 1941-1945